Ringkasan dari Kajian Tafsir Surat Yusuf ayat 15-20
Ayat 15
فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (15)
“Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka masukkan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi."
Pelajaran dari ayat ini:
Mereka (Saudara-saudara Yusuf) sudah sepakat untuk berbuat jahat kepada Yusuf kecil, yaitu dengan cara memasukannya ke sumur, teramat kejam, hati yang telah dibutakan oleh rasa iri dan dengki, melupakan rasa bakti kepada orang tua dan rasa kasih sayang kepada saudara sendiri, diri sudah dikuasai setan, begitulah yang disampaikan oleh Ya’kub kepada Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya, karena setan akan masuk membisikan permusuhan di antara saudara-saudaranya terhadap dia, seperti pada ayat 5 dan 100 disebutkan:
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."(QS. Yusuf: 5)
“… setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.” (QS.Yusuf: 100)
Iman Ibunu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, “Ketika mereka sudah bersepakat untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur dan membawa Yusuf pergi bersama mereka, Ya’kub memeluk erat Yusuf, menciumnya, mendoakannya. Setelah mereka sudah jauh dari Ya’kub dan tidak kelihatan lagi, mereka menyeretnya, memakinya bahkan memukul Yusuf, setelah sampai di dekat sumur, mereka sepakat mengikatnya dengan tapi lalu menurunkannya, setelah sampai di tengah sumur, mereka memotong tali tersebut, lalu jatuhlah Yusuf dan tenggelam, lalu naiklah Yusuf ke batu di tengah sumur tersebut, kedinginan, sendiri.
Bagaimana perasaan Yusuf kecil setelah saudara-saudaranya meninggalkan dirinya di sana, di dalam kegelapan sumur, tanpa teman, tanpa cahaya, jauh dari kasih seorang ibu dan ayah yang menjaga dan menyayangi. Kalaulah bukan karena rahmat Allah yang besar, sumur yang sempit dan gelap itu akan membuat Yusuf mati ketakutan dan kelaparan. Namun Allah selalu punya takdir yang di luar jangkauan manusia, scenario Allah berlaku bagi hamba-hamba pilihan-Nya
Di saat seperti itu, lalu Allah mewahyukan kepada Yusuf: “Kami wahyukan kepada Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi."
Wahyu yang menenangkan jiwa, bahwa ada yang selalu menjaganya, mengawasi, Dialah Allah. Maka kesempitan dan kegelapan dapat berubah secara seketika menjadi lapang dan terang berderang. Maha suci Allah, mereka menginginkan agar Yusuf dikucilkan, direndahkan dan dijatuhkan di dalam sumur, namun Allah menginginkan mengangkat tinggi derajatnya dan duduk di atas singgahsana. Mereka menginginkan kehinaan, namun Allah memuliakan. Mahasuci Engkau ya Allah, segala puji milik-Mu, tiada yang dapat menghalangi atas apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberikan atas apa yang Engkau cegah darinya.
Allah mewahyukan bahwa suatu hari nanti Yusuf akan menceritakan kejadian ini kepada saudara-saudaranya, sedangkan mereka telah lupa atas kejadian ini. Ini menunjukkan bahwa aka nada akhir yang indah dan baik yang akan diraih oleh Yusuf sehingga ia akan menceritakan hal ini kembali kepada saudara-saudaranya yang tega berbuat jahat kepadanya.
Ayat 16-17:
وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ (16) قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ (17)
“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."
Pelajaran dari ayat ini:
Setelah mereka melaksanakan rencana mereka, mereka kembali di waktu sore dengan bercucuran airmata, menangis dengan penuh penyesalan, airmata dusta, airmata yang yang dapat menjadi senjata ampuh buat meyakinkan. Sungguh mereka telah melakukan hal itu, bukan seorang saja yang menangis, namun mereka semua menangis, sungguh saling menguatkan. Lalu mereka mengutarakan sebab dan penyesalan mereka, mereka meninggalkan Yusuf bersama barang-barang mereka di saat mereka berlomba lari. Sekembali mereka Yusuf telah dimakan oleh serigala, dengan sangat menyesal, mereka mengutarakan alasan itu.
Untuk memperkuat ucapan mereka, mereka mengatakan: “Engkau tidak akan percaya kepada kami walaupun kami telah berkata jujur”. Kebohongan yang diakui sebagai kejujuran, bagi orang yang hatinya sudah terkotori dan dibutakan oleh penyakit hati berupa iri dan dengki, maka sangat mudah mengatakan kedustaan dan meyakini itu adalah hal yang benar. Menyedihkan memang.
Betapa hati seorang ayah (Ya’kub), dan orangtua manapun akan merasakan hal yang sama, akan terkejut dan hancur hatinya tatkala mendengar anak kesayangannya mendapat musibah, dimakan serigala, dipatuk ular, dan sebagainya. Namun orang tua yang meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong akan segera mengembalikan segala urusan kepada Allah kemudian menenangkan diri dan mencoba untuk bersabar dengan indah. Berat memang, namun begitulah Ya’kub mengajarkan, dalam ayat selanjutnya, ayat 18 nabi Ya’kub mengucapkan: “maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya”.
Ayat 18
وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (18)
“Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
Pelajaran dari ayat ini:
Kata-kata saja tidaklah cukup, mereka perlu bukti untuk memperkuat ucapan mereka, baju Yusuflah yang pantas dijadikan bukti itu. Sebelum menceburkan Yusuf ke dalam sumur, mereka melepas baju Yusuf. Yusuf kecil tanpa baju sendirian kedinginan di dalam sumur. Baju itu dilumurin darah domba, begitulah Imam Ibnu Katsir mengungkapkan sebuah riwayat dari Imam Mujahid, Setelah mereka melaksanakan rencana mereka, mereka datang memperlihatkan baju itu kepada ayah mereka. Namun mereka melupakan satu hal, baju itu utuh, tanpa sobekan, tak ada tanda-tanda gigitan pada baju itu. Setelah melihat hal itu Ya’kub mengatakan: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu”.
Nabi Ya’kub mengetahui tipudaya yang telah dilakukan terhadap yusuf, ia meyakini bahwa Yusuf masih hidup, namun perpisahan itu tetaplah membuatnya sedih, ia harus bersabar, kesabaran yang indah, dan memohon pertolongan Allah atas keselamatan anaknya Yusuf.
”maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."
Ayat 19-20
وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَى دَلْوَهُ قَالَ يَا بُشْرَى هَذَا غُلَامٌ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (19) وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ (20)
“Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.”
Pelajaran dari ayat ini:
Dari ayat di atas dapat diketahui, bahwa saudara-saudara yusuf kembali lagi ke sumur tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Yusuf, pada saat itulah dengan kekuasaan Allah serombongan musafir melewati sumur tersebut, mereka minta kepada salah seorang dari mereka untuk mengambilkan air. Maka diturunkanlah timba, saat itu bergantunglah Yusuf di timba itu kemudian diangkat keatas, saat melihat Yusuf, saudara-saudaranya menyembunyikan kalau itu adalah saudara mereka sendiri, dan mengatakan Yusuf adalah barang dagangan, kemudian mereka menjualnya, dengan harga yang sangat murah, bahkan merekapun merasa tidak membutuhkannya sama sekali.
Imam Ibnu menyebutkan di dalam tafsirnya, “tatkala kisah ini dikisahkan kepada Rosulullah, sesungguhnya Allah ingin menunjukkan, bahwa Allah mengetahui siksaan yang diterima oleh Rosulullah dari orang-orang Quraisy, agar Rosulullah mengetahui hal serupa yang dialami oleh nabi-nabi sebelumnya, seperti halnya juga yang dialami oleh Yusuf”.
Semua itu dilalui dengan sabar, orang-orang yang dizholimi akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari kesabarannya, sedangkan orang-orang yang berbuat zholim akan menerima akibat dari perbuatannya.
Wallahu a’lam bisshowab..
(Mushollah KBRI Tripoli, 4 Juni 2010)
Zulhamdi M. Saad, Lc










.jpg)











